Manusia dan Keindahan
MANUSIA DENGAN KEINDAHAN
KATA PENGANTAR
Bismillaahirrahmaanirrohiim,
Puji syukur Kehadirat Allah Tuhan
Yang Maha Esa atas petunjuk, rahmat, dan hidayah-Nya penyusun dapat
menyelesaikan tugas ini tanpa ada halangan apapun sesuai dengan waktu yang
telah di tentukan.
Makalah ini di susun dalam rangka
memenuhi tugas terstruktur pada mata kuliah Ilmu Budaya Dasar. Penyusun
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu kritik
dan saran yang membangun sangat penyusun harapkan.
Akhir kata, semoga makalah ini
bermanfaat khususnya bagi penyusun dan umumnya bagi para pembaca. Aamiin.
Jakarta,
28 April 2019
Penyusun,
i
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR.......................................................................................................................... i
DAFTAR
ISI........................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang.........................................................................................................1
B. Rumusan
Masalah................................................................................................... 1
C. Tujuan........................................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A.
Pengertian keindahan...................................................................................................................... 2
B. Makna
keindahan...................................................................................................................... 3
C. Hubungan
manusia dengan keindahan...................................................................................................................... 4
D. Cara-cara
menentukan keindahan...................................................................................................................... 8
BAB III PENUTUP
A. Simpulan............................................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Setiap manusia dilahirkan dan
dibekali dengan banyak sekali keindahan. Keindahannya baik dari dalam, dari
luar, maupun yang ada disekitarnya. Kata keindahan berasal dari kata indah,
artinya bagus, permai, cantik, elok, molek dan sebagainya. Keidahan identik
dengan kebenaran. Keindahan adalah kebenaran dan kebenaran adalah keindahan.
Keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi, dan mempunyai daya tarik yang
selalu bertambah. Yang tidak mengandung kebenaran berarti tidak indah. Keindahan
juga bersifat universal, artinya tidak terikat oleh selera perseorangan, waktu
dan tempat, kedaerahan, selera mode, kedaerahan atau lokal.
Maka jika manusia hidup tanpa
keindahan pada hakikatnya dia sudah mati. Keindahan bisa membuat kita gembira,
bersyukur dan lain-lain. Orang yang hidup tanpa keindahan pada realita maka dia
akan cenderung kurang bersemangat. Oleh karena itu, dalam makalah ini kita akan
membahas lebih dalam mengenai manusia dan keindahan.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan pada latar belakang
yang telah di jelaskan maka dapat dibuat perumusan masalah sebagai berikut;
a. Apa yang
dimaksud dengan Keindahan?
b. Apa makna
dari keindahan?
c. Bagaimana
hubungan manusia dengan keindahan?
d. Bagaimana
cara menentukan keindahan?
C. Tujuan
Berdasarkan
rumusan diatas, tujuan penulisan ini adalah untuk:
a. Mengetahui
pengertian Keindahan
b. Mengetahui
makna keindahan
c. Mengetahui
hubungan manusia dengan keindahan
d. Mengetahui
cara menentukan keindahan.
1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Keindahan
Keindahan berasal dari kata
indah, yang artinya adalah bagus, permai, cantik, elok, molek dan sebagainya.
Benda yang mempunyai sifat indah adalah segala hasil seni meskipun tidak semua
hasil seni indah, pemandangan alam (pantai, pegunungan, danau, bunga-bunga),
Manusia (wajah, mata, bibir, hidung, rambut, kaki, tubuh) Keindahan adalah
identik dengan kebenaran atau kenyataan.
Menurut The Liang Gie dalam
bukunya ‘Garis Besar Estetik’ (Filsafat Keindahan) dalam bahasa inggris
keindahan itu diterjemahkan dengan kata “beautiful” Perancis “beau”, Italia dan
Spanyol “bello”. Kata-kata itu berasal dari bahasa latin “bellum”. Akar Katanya
adalah “bonum” yang berarti kebaikan kemudian mempunyai bentuk pengecilan
menjadi “bonellum” dan terakhir dipendekan sehingga ditulis “bellum”.
Manusia setiap waktu memperindah
diri, pakaian, rumah, kendaraan, dan sebagainya agar segalanya tampak mempesona
dan menyenangkan bagi yang melihatnya. Semua ini menunjukan betapa manusia
sangat gandrung dan mencintai keindahan. Menurut cakupannya orang harus
membedakan keindahan sebagai sesuatu kualitas abstrak dan sebagai sebuah benda
tertentu yang indah. Untuk pembedaan itu dalam bahasa inggris sering
dipergunakan istilah “beauty” (keindahan) dan” the beautiful” (benda atau hal
indah). Dalam pembatasan filsafat, kedua pengertian ini kadang-kadang
dicampuradukan saja disamping itu terdapat juga perbedaan menurut luasnya
perngertian ini sebagai berikut:
1. Keindahan
dalam arti luas
2. Keindahan
dalam arti estetis murni
3.
Keindahan dalam arti terbatas
dalam pengertiannya dengan penglihatannya.
2
Keindahan dalam arti luas
merupakan pengertian semula dari bangsa Yunani dulu yang didalamnya tercakup
pula kebaikan, plato misalnya menyebut tentang watak yang indah dan hukum yang
indah, Sedangkan Aritoteles merumuskan keindahan sebagai sesuatu yang selain
baik juga menyenangkan. Plotinus menulis tentang ilmu yang indah, kebajikan
yang indah. Orang Yunani dulu berbicara juga tentang buah pikiran yang indah
dan adab kebiasaan yang indah. Tapi bangsa Yunani juga mengenal keindahan dalam
arti estetis yang disebutnya “symetria” untuk keindahan berdasarkan penglihatan
dan harmonia untuk keindahan berdasarkan pendengaran .Jadi pengertian keindahan
seluas-luasnya meliputi keindahan seni, keindahan alam, keindahan moral dan
keindahan intelektual.
B. Makna
Keindahan
Mejawab pertanyaan sekitar apa
itu keindahan, boleh jadi merupakan pekerjaan yang sulit. Ini kalau yang di
tuntut jawaban yang bisa memuaskan semua pihak. Kesulitan semacam itu memang bisa
di mengerti oleh karena sampai sekarang ini kita bisa temukan berbagai batasan
atau pengertian tentang keindahan yang celakanya, berada satu sama lain.
Sekedar penguat konstatasi di atas, baik juga di
lihat beberapa persepsi tentang keindahan berikut ini:
1. Keindahan adalah sesuatu yang mendatangkan rasa menyenangkan bagi yang
melihat.
2.
Keindahan adalah keseluruhan yang
merupakan susunan yang teratur dari bagian-bagian yang saling berhubungan satu
sama lain, atau dengan keseluruhan itu sendiri.
3.
Yang indah hanyalah yang baik.
Jika belum baik ciptaanya itu belum indah. Keindahan harus bisa memupuk
perasaan moral. Jadi ciptaan-ciptaan yang amoral tidak bisa dikatakan indah,
karena tidak dapat digunakan untuk memupuk moral.
4.
Keindahan dapat terlepas sama sekali dari kebaikan.
4
5.
Yang indah memiliki proporsi yang
harmonis. Karena proporsi yang harmonis itu nyata, maka keindahan itu dapat di
samakan dengan kebaikan. Jadi yang indah adalah nyata dan yang nyata adalah
yang baik.
7. Yang indah adalah yang paling
banyak mendatangkan rasa senang, dan itu adalah yang dalam waktu
sesingkat-singkatnya paling banyak memberikan pengalaman yang menyenangkan.
Dengan melihat demikian
beragamnya pengertian keindahan, dan kita harus percaya bahwa yang di atas itu
hanyalah sebagian kecil, boleh jadi akan mengecewakan kita yang menuntut adanya
suatu pengertian yang tunggal tapi yang memuaskan. Namun demikian, dari
pengertian yang ada, sebenarnya, kita bisa menempatkannya dalam
kelompok-kelompok pengertian sendiri, paling tidak kita bisa menangkap arah
atau kecenderungan dari suatu pengertian yang di kemukakan seseorang sesuai
dengan pengelompokan-pengelompokan yang ada. Pengelompokan-pengelompokan yang
dapat kita sebut adalah sebagai berikut:
1.
Pengelompokan pengertian
keindahan berdasar pada titik pijak atau landasannya.
Dalam hal ini ada dua pengertian keindahan, yaitu
yang bertumpu pada obyek dan subyek. Yang pertama, yaitu keindahan yang
obyektif, adalah keindahan yang memang ada pada obyeknya sementara kita sebagai
pengamat harus menerima sebagai semestinya. Sedang yang kedua, yang disebut
keindahan subyektif adalah keindahan yang biasanya di tinjau dari segi subyek
yang melihat dan menghayatinya.
5
Bertitik tolak dari landasan ini kita bisa
membedakan antara keindahan sebagai kualitas abstrak dan keindahan sebagai
sebuah benda tertentu yang indah.
3. Pengelompokan
pengertian keindahan berdasar luas sempitnya.
Dalam pengelompokan ini kita bisa membedakan antara
pengertian keindahan dalam arti luas, dalam arti estetik murni, dan dalam arti
yang terbatas. Keindahan dalam arti luas, menurut The Liang Gie, mengandung
gagasan tentang kebaikan.
Dari apa yang di kemukakan di atas, dua hal bisa
kita petik, yaitu : pertama, keindahan menyangkut persoalan filsafati, sehingga
jawaban terhadap apa itu keindahan sudah barang tentu bisa bermacam-macam.
Kedua, keindahan sebagai pengertian mempunyai makna yang relatif, yaitu sangat
tergantung pada subyeknya.
C. Hubungan Manusia dengan Keindahan
Manusia dan keindahan memang tak
bisa dipisahkan sehingga diperlukan pelestarian bentuk keindahan yang
dituangkan dalam berbagai bentuk kesenian (seni rupa, seni suara maupun seni
pertunjukan) yang nantinya manjadi bagian dari kebudayaannya yang dapat
dibanggakan dan mudah-mudahan terlepas dari unsur politik. Kawasan keindahan
bagi manusia sangat luas, seluas keanekaragaman manusia dan sesuai pula dengan
perkembangan peradaban teknologi, sosial, dan budaya. Karena itu keindahan
dapat dikatakan, bahwa keindahan merupakan bagian hidup manusia. Keindahan tak
dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Dimanapun kapan pun dan siapa saja
dapat menikmati keindahan.
Keindahan identik dengan
kebenaran. Keindahan merupakan kebenaran dan kebenaran adalah keindahan.
Keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi, dan mempunyai daya tarik yang
selalu bertambah. Yang tidak mengandung kebenaran berarti tidak indah. Karena itu
tiruan lukisan Monalisa tidak indah, karena dasarnya tidak benar. Sudah tentu
kebenaran disini bukan
6
kebenaran ilmu, melainkan kebenaran menurut konsep
seni. Dalam seni, seni berusaha memberikan makna sepenuh-penuhnya mengenai
obyek yang diungkapkan.
Manusia menikmati keindahan
berarti manusia mempunyai pengalaman keindahan. Pengalaman keindahan biasanya
bersifat terlihat (visual) atau terdengar (auditory) walaupun tidak terbatas
pada dua bidang tersebut. keindahan tersebut pada dasarnya adalah almiah. Alam
itu ciptaan Tuhan. Alamiah itu adalah wajar tidak berlebihan dan tidak kurang.
Konsep keindahan itu sendiri sangatlah abstrak ia identik dengan kebenaran.
Batas keindahan akan behenti pada pada sesuatu yang indah dan bukan pada
keindahan itu sendiri.
Keindahan mempunyai daya tarik
yang selalu bertambah, sedangkan yang tidak ada unsur keindahanya tidak
mempunyai daya tarik. Orang yang mempunyai konsep keindahan adalah orang yang
mampu berimajinasi, rajin dan kreatif dalam menghubungkan benda satu dengan
yang lainya. Dengan kata lain imajinasi merupakan proses menghubungkan suatu
benda dengan benda lain sebagai objek imajinasi. Demikian pula kata indah
diterapkan untuk persatuan orang-orang yang beriman, para nabi, orang yang
menghargai kebenaran dalam agama, kata dan perbuatan serta orang –orang yang
saleh merupakan persahabatan yang paling indah.
Jadi keindahan mempunyai dimensi
interaksi yang sangat luas baik hubungan manusia dengan benda, manusia dengan
manusia, manusia dengan Tuhan, dan bagi orang itu sendiri yang melakukan
interaksi. Pengungkapan keindahan dalam karya seni didasari oleh motivasi
tertentu dan dengan tujuan tertentu pula. Motivasi itu dapat berupa pengalaman
atau kenyataan mengenai penderitaan hidup manusia, mengenai kemerosotan moral,
mengenai perubahan nilai-nilai dalam masyarakat, mengenai keagungan Tuhan, dan
banyak lagi lainnya. Tujuannya tentu saja dilihat dari segi nilai kehidupan
manusia, martabat manusia, kegunaan bagi manusia secara kodrati.
Ada beberapa alasan mengapa
manusia menciptakan keindahan, yaitu sebagai berikut:
7
1.
Tata nilai yang telah using
Tata nilai yang terjelma dalam
adat istiadat ada yang sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan, sehingga
dirasakan sebagai hambatan yang merugikan dan mengorbankan nilai-nilai
kemanusiaan, misalnya kawin paksa, pingitan, derajad wanita lebih rendah dari
derajad laki-laki. Tata nilai semacam ini dipandang sebagai mengurangi nilai
moral kehidupan masyarakat, sehingga dikatakan tidak indah. Yang tidak indah
harus disingkirkan dan digantikan dengan yang indah. Yang indah ialah tata
nilai yang menghargai dan mengangkat martabat manusia, misalnya wanita. Hal ini
menjadi tema para sastrawan zaman Balai Pustaka, dengan tujuan untuk merubah
keadaan dan memperbaiki nasib kaum wanita. Sebagai contoh novel yang
menggambarkan keadaan ini ialah "layar terkembang" oleh Sutan Takdir
Alisyahbana, "Siti Nurbaya" oleh Marah Rusli.
2.
Kemerosotan Zaman
Keadaan yang merendahkan derajad
dan nilai kemanusiaan ditandai dengan kemerosotan moral. Kemerosotan moral
dapat diketahui dari tingkah laku dan perbuatan manusia yang bejad terutama
dari segi kebutuhan seksual. Kebutuhan seksual ini dipenuhinya tanpa
menghiraukan ketentuan-ketentuan hukum agama, dan moral masyarakat. Yang
demikian itu dikatakan tidak baik, yang tidak baik itu tidak indah. Yang tidak
indah itu harus disingkirkan melalui protes yang antara lain diungkapkan dalam
karya seni. Sebagai contoh ialah karya seni berupa sanjak yang dikemukakan oleh
W.S. Rendra berjudul "Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta". Di
sini pengarang memprotes perbuatan bejad para pejabat, yang merendahkan derajad
wanita dengan mengatakan sebagai inspirasi revolusi, tetapi tidak lebih dari
pelacur.
3.
Penderitaan Manusia
Banyak faktor yang membuat
manusia itu menderita. Tetapi yang paling menentukan ialah faktor manusia itu
sendiri. Manusialah yang membuat orang menderita sebagai akibat nafsu ingin
berkuasa, serakah,
8
tidak berhati-hati dan sebagainya. Keadaan demikian
ini tidak mempunyai daya tarik dan tidak menyenangkan, karena nilai kemanusiaan
telah diabaikan, dan dikatakan tidak indah. Yang tidak indah itu harus
dilenyapkan karena tidak bermanfaat bagi kemanusiaan.
4.
Keagungan Tuhan
Keagungan Tuhan dapat dibuktikan
melalui keindahan alam dan keteraturan alam semesta serta kejadian-kejadian
alam. Keindahan alam merupakan keindahan mutlak ciptaan Tuhan. Manusia hanya
dapat meniru saja keindahan ciptaan Tuhan itu. Seindah-indah tiruan terhadap
ciptaan Tuhan, tidak akan menyamai keindahan ciptaan Tuhan itu sendiri.
Kecantikan seorang wanita ciptaan Tuhan membuat kagum seniman Leonardo da
Vinci. Karena itu ia berusaha meniru ciptaan Tuhan dengan melukis Monalisa
sebagai wanita cantik. Lukisan monalisa sangat terkenal karena menarik dan
tidak membosankan.
D.
Cara-Cara
Menentukan Keindahan
1. Renungan
Renungan berasal dari kata renunag, merenung
artinya dengan diam-diam memikirkan sesuatu, atau memikirkan sesuatu dengan
dalam-dalam. Renungan adalah hasil merenung. Setiap orang pernah merenung.
Sudah tentu kadar renungannya satu sarna lain berbeda, meskipun obyek yang
direnungkan sama, lebih pula apabila obyek renungannya berbeda. Jadi apa yang
direnungkan itu bergantung kepada obyek dan subyek.
2. Keserasian
Keserasian berasal dari kata serasi-serasi dari
kata dasar rasi artinya cocok, sesuai, atau kena benar. Kata cocok sesuai atau
kena mengandung unsur pengertian perpaduan, ukuran dan seimbang. Keserasian
identik dengan keindahan. Sesuatu yang serasi tentu tampak indah dan yang tidak
serasi tidak indah. Karena itu sebagian ahli pikir berpendapat, bahwa keindahan
ialah sejumlah kualita pokok tertentu yang terdapat pada suatu hal.
9
3. Kehalusan
Kehalusan berasal dari kata halus artinya tidak
kasar (perbuatan) lembut, sopan, baik (budi bahasa), beradab. Kehalusan berarti
sifat-sifat yang halus.
Halus itu berarti suatu sikap manusia dalam
pergaulan baik dalam masyarakat kecil maupun dalam masyarakat luas. Sudah tentu
sebagai lawannya ialah sikap kasar atau sikap orang-orang yang sedang emosi,
bersikap sombong, bersikap kaku sikap orang yang sedang bermusuhan. Oleh karena
itu kehalusan dapat menunjukan nilai keindahan seseorang dan sikap kasar bisa
mengurangi nilai keindahan dari seseorang.
4. Kontemplasi
Suatu proses bermeditasi, merenungkan atau berpikir
penuh dan mendalam untuk mencari nilai-nilai makna, manfaat, dan tujuan, atau
niat hasil penciptaan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Keindahan pada dasarnya adalah
alamiah. Alam itu ciptaan tuhan. Ini berarti bahwa keindahan itu ciptan tuhan.
Keindahan menyangkut kualitas hakiki dari segala benda yang mengandung kesatuan
(unity), keselarasan (harmony), kesetangkupan (symetri), keseimbangan
(balance), dan pertentangan (contrast). Dari ciri-ciri itu diambil
kesimpulan,bahwa keindahan tersusun dari keselarasan dan pertentangan dari
garis, warna, bentuk, nada dan kata-kata. Keindahan adalah kebenaran dan
kebenaran adalah keindahan. Dua hal yang indah yang selalu berdampingan. Dua
hal tersebut juga berdampingan dengan Manusia. Manusia diberikan keindahan yang
sangat luar biasa oleh Tuhan Yang Maha Esa. Oleh sebab itu, manusia diharapkan
untuk selalu menjaga keindahan-keindahan yang dimilikinya, yang ada pada
dirinya agar senantiasa keindahan tersebut dapat berguna dan dinikmati oleh
semua orang, serta untuk mengetahui suatu keindahan dibutuhkan hal-hal seperti
renungan, keserasian, kehalusan dan kontemplasi.
10
DAFTAR PUSTAKA
Sulaeman,
Munandar. 1998. Ilmu Budaya Dasar Suatu
Pengantar. Bandung:
Refika
Aditama
Tri Prasetya Joko. 2004. Ilmu
Budaya Dasar. Jakarta: PT Asli Mahasatya Whidagdo, Djoko. 2002. Ilmu budaya Dasar Berdasarkan Al-Quran Dan
Hadits. Jakarta: PT. Raja Geapindo Persada

Komentar
Posting Komentar